Showing posts with label banyumas. Show all posts
Showing posts with label banyumas. Show all posts

Tuesday, 25 June 2019

Sejarah Desa Pasir Kulon Kecamatan Purwokerto Barat Kabupaten Banyumas - Jawa Tengah



Nama “Pasir” sebenarnya bukan berasal dari kata pasir, namun bermula dari kata “Pesisir”. Ini mungkin dikarenakan pergeseran pengucapan lidah orang Jawa dari kata pesisir yang lama-lama terucap menjadi kata Pasir.  Desa ini disebut “Desa Pesisir” karena memang dahulu wilayah ini adalah batas pantai di wilayah Demak dan lama-kelamaan menjadi daratan kemudian menjadi tempat hunian atau desa.
Desa pasir babadnya atau sejarahnya bermula dari babad Pasir Luhur dan kerajaan Galuh. Kerajaan Pasir Luhur/Kadipaten Pasir Luhur dinyatakan sebagai kerajaan Galuh yang merdeka (wilayah perdikan) karena tidak di bawah kekuasaan kerajaan lain baik Sunda (Pajajaran) maupun Majapahit. Konon Pasir Luhur wilayahnya mulai dari Gunung Sindoro Sumbing sebagai batas sebelah timur sampai dengan Sungai Citarum sebagai batas sebelah barat. Dan bukti sejarahnya termuat dalam Versi Tembang dan Gancaran (prosa-prosa).

Berikut Adalah Silsilah Dari Kerajaan Pasir Luhur :

  1. Prabu Mundingwangi (Ratu Ing Pajajaran)
  2. Aryo Bangah (Raja Galuh)
  3. Prabu Ciung Wanara (Raja Pajajaran)
  4. Raden Djaka Suruh / Prabu Brawidjaja I (Raja Majapahit)
  5. Adipati Dewa Agung
  6. Prabu Linggowastu
  7. Prabu Brawidjaja II
  8. Adipati Agung Dewa
  9. Prabu Linggo Lijo
  10. Prabu Hadiningkung
  11. Adipati Tjarang Rangkang
  12. Prabu Linggo Larang
  13. Prabu Hajam Wuruk
  14. Adipati Amidjaja
  15. Prabu Linggo Wasi
  16. Prabu Lembu Amisani
  17. Adipati Kandha Daha
  18. Prabu Silih Wangi
  19. Prabu Brotandiung
  20. Dewi Tjiptarasa (Putri Bungsu)
  21. Raden Banyak Tjatra (Raden Kamandaka)
  22. Raden Alit / Brawidjaja III
Berikut juga ada sebuah kisah yang populer dari Kerajaan Pasir Luhur, yakni cerita tentang Raden Banyak Catra. Konon ceritanya Raden Banyak Catra belum mau menjadi Raja menggantikan Ayahnya bila belum menemukan Istri untuk dijadikan Permaisuri yang mirip dengan ibunya. Kemudian dia melakukan perjalanan dengan istilah Ngaman Daka yaitu berjalan seorang diri dengan tidak menyertakan prajurit dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Sehingga dikenal dengan nama Kamandaka. Sampailah dia di Kadipaten Pasir Luhur dan singkat cerita bertemu dengan Dewi Ciptarasa Putri Bungsu Adipati Kandha Daha yang berparas mirip sekali dengan ibu Raden Banyak Catra. Raden Banyak Catra tertarik mendekati Dwi Cipta Rasa untuk dipinang sebagi istrinya. Disinilah cerita legenda Lutung Kasarung.

Kemudian Raden Kamandaka menikah dengan Dewi Cipta Rasa dan dinobatkan sebagai Adipati Pasir Luhur menggantikan Ayah Mertuanya Adipati Kandha Daha. Beriku silsilah yang didapat dari pernikahan Raden Banyak Cakra dan Dewi Cipta Rasa sebagai berikut :
  1. Dewi Cipta Rasa ( Putri Bungsu)
  2. Raden Banyak Catra ( Raden Kamandaka)
  3. Raden Banyak Wirata
  4. Raden Banyak Roma
  5. Raden Banyak Kesumba
  6. Raden Banyak Belanak / Patih Purwakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi I)
  7. Raden Banyak Geleh / Patih Wirakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi II)
Dan pada perkemanganya banyak pergantian kepemimpian dan perkembangan lainya dari Kerajaan Pasir Luhur yang kemudian  terpisah rmenjadi 4 yaitu ;
  1. Pasir Kulon
  2. Pasir Wetan
  3. Pasir Kidul
  4. Pasir Lor
Berikut adalah tokoh-tokoh dari Desa Pasir :
1. Nyai Maryam (Demang Wanita)
2. Nyai Nurhakim (Demang Wanita)
3. Demang Nurahman I
4. Demang Nurahman II
5. Demang Nurahman III
6. Demang Muljadimedja ( Demang Nurahman IV)
7. Demang Nurahman V
8. H. Wangidin  
9. H. Soetarman HS
10. H. Sukamto
11. Chadjirin
12. Hj. Endriyani

Sebenarnya sejarah Desa Pasir Kulon sendiri tidak terlalu banyak, sebab Desa Pasir Kulon merupakan jabaran dari kerajaan pasir luhur, sehingga cerita rakyatnya lebih kepada babat Kerajaan Pasir Luhur.

Kontributor: Deby Yuliana

Friday, 21 June 2019

Sejarah Desa Bobosan Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Jawa Tengah


Gunung Slamet dari salah satu sudut Desa Bobosan

Desa Bobosan terletak di Kecamatan Purwokerto Utara, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Bobosan berasal dari kata trobosan atau jalan pintas.
Desa bobosan di bagi menjadi dua yaitu bobosan barat dan bobosan timur dengan satu kepala desa.

Kesejarahan desa ini dimulai dari kemunculan seorang tokoh yang terkenal dengan nama Kamandaka yang mempunyai nama asli Banyak Catra, Kamandaka adalah anak dari Prabu Siliwangi. Ketika Prabu Siliwangi ingin memberikan tahtanya kepada anak pertamanya yaitu Banyak Catra, tetapi Banyak Catra belum mempunyai pendamping hidup. Hingga pada suatu ketika Prabu Siliwangi memerintahkan anaknya Banyak Catra untuk segera berumah tangga dengan memilih sejumlah puteri bangsawan untuk di peristri, namun Banyak Catra menolak karena Banyak Catra ingin mempunyai istri yang mirip seperti almarhumah ibu tirinya. Karena hal inilah Banyak Catra memohon izin berkelana untuk berkelana guna mencari pasangan hidupnya.

Versi lain menyebutkan bahwa penyebab Kamandaka keluar dari rumah karena di usir dari keraton Pajajaran akibat Kamandaka yang sudah cukup umur tetapi belum menikah. Hal ini yang lantas menimbulkan tanda tanya ayahandanya yaitu Prabu Siliwangi. Alasan Kamandaka belum menikah dikarenakan ia ingin memperistri wanita yang hatinya baik dan tulus seperti ibu tirinya yang sangat menyayangi Kamandaka dan saudaranya. Alasan inilah yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman antara Kamandaka dengan ayahandanya, sang ayah berfikir bahwa Kamandaka menyukai ibu tiriya karena alasan itulah Kamandaka diusir dari rumah.

Disini penulis lebih setuju dengan pendapat pertama yaitu dengan adanya intrik kekusaan tahta kerajaan Pajajaran sebagai penyebab Banyak Catra mengembara untuk mencari istri yang mirip dengan ibunya. Setelah Banyak Catra pergi dari rumah ia menyamar menjadi warga kerajaan biasa dan mengganti namanya menjadi Kamandaka. Lalu ia mengembara ke arah barat, tepatnya di kawasan Pasir Luhur sebuah kadipaten yang dipimpin oleh Adipati Kandhadhaha. Kadipaten ini sendiri berada di bawah imperium Pajajaran. Di kadipaten ini Kamandaka disebutkan bertemu dengan seorang perempuan yang mirip dengan ibu tirinya, perempuan itu bernama Dewi Cipta Rasa yang merupakan anak dari Adipati Kandhandhaha.
         
Di daerah pasir luhur Kamandaka diangkat mejadi seorang anak oleh patih yang bernama Reksanata, dikarenakan patih tersebut tidak mempunyai anak. Dan patih tersebut senang melihat seorang anak muda yang tampan, kuat dan mempunyai sopan santun yang bagus hal inilah yang membuat Patih Reksanata mengangkat Kamandaka menjadi anaknya.
         
Awal mula pertemuan Kamandaka dengan Dewi Cipta Rasa yaitu ketika Adipati Kandhadhaha mengadakan sebuah hiburan yaitu penangkapan ikan di sungai secara beramai-ramai. Pertemuan Kamandaka dengan Dewi Cipta Rasa berlanjut dengan dengan tumbuhnya jalinan cinta.
         
Suatu ketika Kamandaka menemui Dewi Cipta Rasa di Kadipaten Pasir Luhur, namun pertemuan ini kemudian dipergoki oleh kakak dari Dewi Cipta Rasa, bagi Adipati Kandhadhaha perilaku itu sangat mencoreng muka Kamandaka sebagai rakyat jelata yang bercengkrama degan seorang putri Dewi Cipta Rasa.
         
Hal itupun lantas membuat Adipati Kandhahaha murka. Adipati Kadhadhaha lantas memerintahkan Patih Reksanata untuk membunuh Kamandaka atau anak angkatnya yang sangat ia sayangi. Patih Reksanata pun masygul, lalu ia memerintahkan Kamandaka untuk melarikan diri.
         
Babak selanjutnya dari kemarahan Adipati Kandhahaha menjadikan Kamandaka terus dikejar-kejar oleh prajurit kadipaten dan para telik sandinya. Hingga pada suatu epik perburuan sampai-sampai membuat Kamandaka terjun ke sungai dan bersembunyi ke dalam liang gua yang terdapat di sungai itu. Dan para prajurit melempari batu pada tempat Kamandaka menceburkan diri. Lalu di saat bersamaan ada seorang warga di sekitar sungai yang kebetulan sendang mencuci ayam, sementara bagian dari usus ayam tersebut hanyut ke sungai. Para prajurit mengira bahwa usu tersebut adalah usus Kamandaka, para prajurit beranggapan bahwa Kamandaka sudah mati. Sungai itu hari ini dikenal sebagai Sungai Logawa.
         
Dalam pelariannya, Kamandaka kemudian diketahui menumpang di sebuah rumah seorang janda tua yaitu Nyi Kartisara yang bekerja sebagai penjual daun pisang. Di sini Kamandaka memelihara ayam yang selalu menang jika diadu, ayam tersebut dinamai Mercu. Di tempat ini juga Kamandaka mendapatkan kawan yang bernama Ki Reksajaya yang berasal dari Losari, orang yang cacat jasmaninya.
         
Sementara di belahan dunia lain, Prabu Siliwangi merasakan gelisah yang sangat akibat anak pertamanya yaitu Banyak Catra tidak kunjung pulang. Lalu Prabu Siliwangi memerintahkan adiknya yaitu Banyak Ngampar untuk mencari kakaknya yaitu Banyak Catra atau Kamandaka. Maka mengembaralah Banyak Ngampar hingga sampai ke Kadipaten Pasir Luhur dengan menyamar menjadi rakyat biasa yang bernama Silihwarni.
         
Suatu ketika kabar Kamandaka masih hidup di suatu desa dengan profesi sebagai penyabung ayam terdengar oleh adipati Kandhdhaha. Adipati Kandhdhaha pun kembali murka. Lantas ia membuat sebuah sayembara untuk membunuh Kamandaka dan Silihwarni pun mengikuti dan menyanggupi sayembara tersebut.
         
Silihwarni sama sekali tidak tahu bahwa Kamandaka adalah kakak kandungnya sendiri. Demi sayembara itu, ia pun berangkat ke desa tempat penyabung ayam yang terkenal luas itu dengan membawa jago yang dikakinya sudah di pasang patrem (keris kecil) pada taji jagonya. Pada saat berhadapan dengan Kamandaka, Silihwarni langsug melempar jagonya. Lambung kiri Kamandaka pun terkena patrem yang dipasang di kaki jago Silihwarni. Pertarungan antar dua pemuda gagah itupun pun terjadi dengan sengitnya, dan Silihwarni terkena tusukan keris di kanan lambungya.
         
Setelah itu Kamandaka kembali dikerjar-kejar oleh prajurit Kadipaten Pasir Luhur yang mendampingi Silihwarni. Pengejaran terus berlanjut hingga dibantu oleh prajurit menantu Adipati Mersi.
         
Kamandaka melajutkan perjalanan ke utara dan beristirahat di suatu tempat. Yang sekarang dinamakan desa Kober. Kemudian Kamandaka melajutkan perjalanan menembus hutan belukar sehingga sulit ditebus oleh para prajurit Pasir Luhur. Kemudian desa ini dinamakan desa “Bobosan”  yang mempunyai arti trobosan. Hingga saat ini jalan Desa Bobosan yang berbatasan dengan Desa Kober tepatnya berada di sebelah makam selalu terbuka walaupun sudah coba jalan tersebut ditutup dikarenkan jalan tersebut merupakan jalan trobosan. Karena hutan belukar di daerah Bobosan mempunyai pohon dan rumput yang tinggi jadi para prajurit susah utuk mengejar serta melihat Kamandaka dari kejauhan. Mensiasati ini, para prajurit melepaskan anjing untuk menangkap atau menghabisi Kamandaka sehingga prajurit hanya menunggu anjing tersebut menggongong tetapi anjing tersebut malah justru tertagkap dan dikurung oleh Kamandaka di suatu kawasan yang kini menjadi Desa “Kurung Anjing”. Jadi batas Desa Bobosan dimulai dari setelah Desa Kober hingga Desa Karang Anjing.
         
Hingga pada suatu kejadian klimaks ketika akhirnya Silihwarni berhasil menemui Kamandaka di sebuah tempat yang bernama Batu Sinom lalu Kamandaka pun naik ke atas batu sembari menantang Silihwari yang sebenarnya adalah adiknya sendiri. Ini baru ia sadari ketika Silihwarni mengeluarkan Keris Kyai Mojang Pamungkas yang merupakan pusaka Kerajaan Pajajaran. Dari situlah baru mereka saling mengetahui bahwa mereka adalah saudara. Lalu Silihwarni pun menjelaskan maksud tujuan misinya yaitu mencari kakak kandungnya yaitu Kamandaka atau Banyak Catra. Mereka berdua pun pulang ke Kerajaan Pajajaran. Dan dikarenakan Kamandaka atau Banyak Catra merupakan anak dari Prabu Siliwangi Adipati Kandhadhaha pun merestui hubungan cinta Dewi Cipta Rasa dengan pangeran Banyak Catra. Banyak masyarakat hingga hari ini yang beranggapan bahwa Kamandaka murca atau hilang tanpa jejak, sehingga tidak ditemukan makam Kamandaka.

Kontributor: Reza Amalia Asti

Thursday, 20 June 2019

Sejarah Desa Rawalo Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas Jawa Tengah


                     
Lokasi petilasan rawa dan pohon Lo yang kini menjadi lahan pertanian.

Kecamatan Rawalo terletak di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Kecamatan Rawalo berjarak sekitar 20 km arah selatan dari pusat Kabupaten Banyumas. Kecamatan Rawalo secara geografis merupakan pertemuan jalan raya nasional jalur selatan Jawa dengan jalan raya nasional lintas tengah. Luas wilayah Kecamatan Rawalo 4.964 Hektar. Pada tahun 2015 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas mencatat jumlah penduduk Keacamatan Rawalo mencapai 63.273 jiwa. Kecamatan Rawalo sendiri mempunyai  sembilan kelurahan yaitu Banjarparakan, Losari, Menganti, Pesawahan, Rawalo, Sanggreman, Sidamulih Tambaknegara, dan Tipar. Ibu kota Kecamatan Rawalo adalah Desa Rawalo. Desa Rawalo terletak dibagian selatan Kabupaten Banyumas. Wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah terutama dibagian tengah. Wilayah selatan berupa lereng perbuktian landai yang dilintasi oleh Sungai Serayu dari bagian timur. Bagian utara merupakan daerah perbuktian berketinggian lebih dari 300 meter diatas permukaan laut dengan sejumlah puncaknya seperti Bukit Payung (312 m), Bukit Watujambangan (237 m) dan Bukit Kubang (185 m). selain Sungai Serayu, Desa Raalo juga dilewati sejumlah sungai seperti Sungai Tajum, Sungai Kalibalung, Sungai Kalidare, dan Sungai Sungkalan.

Sejarah Desa Rawalo
Sebelum masa kolonial, perkembangan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh keadaan alam atau faktor greografis. Gunung-gunung dan radatan tinggi mendukung wilayah pedalaman menjadi kawasan yang sangat cocok bagi pengelolaan pertanian. Sehingga, lembah sungai menjadi pusat kegiatan-kegiatan manusia. Sama halnya dengan Lembah Sungai Serayu yang menjadi pusat kegiatan manusia sejak masa pra kolonial. Lembah Sungai Serayu merupakan suatu daratan luas yang terletak diantara kawasan Gunung Sumbing dengan puncak Gunung Slamet 3.428 diatas permukaan laut. Desa Rawalo pun dilewati oleh Sungai Serayu. Rawalo berasal dari dua kata Rawa dan Lo. Lo sendiri adalah sebuah nama pohon. Pohon Lo juga disebutkan dalam kitab suci. Dalam kisah Buddha Gauthama, Pohon Lo disebut Bodhi. Pangeran Sidratha Gauthama bersemedi dibawah Pohon Lo sampai mendapat pencerahan spiritual hingga disebut Buddha. Karena besar dan diameternya bisa lebih dari 50 cm dan tingginya bisa mnecapai 17 meter, Pohon Lo sering dianggap angker dan ada makhluk penunggunya.

Konon, penamaan Desa Rawalo tersebut karena ketika ada peristiwa “Blabur Banyumas” hanya daerah yang terdapat Pohon Lo saja yang tidak terendam oleh genangan banjir tersebut. Blabur Banyumas sendiri terjadi pada hari Kamis Wage, Jum’at Kliwon sampai Sabtu Manis tanggal 21-23 Februari 1861. Prasasti yang ditempelkan di klompek Pondok Pesantren GUPPI Banyumas pada tembok bagian selatan gedung yang persis dipintu masuk kompleks menggunakan bahasa Belanda. Letaknya persis menggambarkan ketinggian air bah yang sampai kelangi-langit gedung tingginya sekitar 3,5 meter. Para sesepuh kala itu sudah mendapat firasat yang digambarkan dengan sasmitha, terkenal dengan sasmita “Bethik mangan manggar”. Semula semua orang tidak dapat menafsirkan apa makna dibalik kata-kata itu. Setelah banjir terjadi barulah orang mengetahui makna yang tersirat dalam ucapan simbolik tersebut. Bethik adalah nama ikan air tawar yang banyak hidup di Serayu, sedangkkan Manggar adalah bunga pohon kelapa. Pohon Kelapa yang sudah berumur kurang lebih 7 tahun kira-kira tingginya sudah 3-4 meter. Jadi “Bethik mangan Manggar” adalah bahwa ikan yang hidup di air sungai dapat mencapai manggar yang ada dipohon kelapa. Berarti dapat disimpulkan bahwa munculnya penamaan Rawalo muncul sekitar tahun 1860an

Kabupaten Banyumas pada masa penjajahan Inggris (1811-1816) di bawah penguasaan Kerajaan Surakarta, yang artinya adalah bahwa Desa Rawalo juga berada dibawah Kerajaan Surakarta. Akan tetapi pada masa penjajahan Inggris penguasaan Kerajaan Surakarta tersebut hanya sebagai adipati atau bupati banyumas saja.

Pada Desa Rawalo terdapat Cungkub yang dijaga di Kuburan Desa Rawalo. Cungkub tersebut merupakan cungkub bangsawan-bangsawan dari Keraton Jogja yang “ngili”. Bangsawan-bangsawan tersebut berasal dari daerah yang bernama Drewak. Mereka mengungsi akibat intimidasi dari penjajah Belanda. Tokoh yang paling masyhur di Desa Rawalo adalah Tuan Guru Carik Kabar. Beliau merupakan pejuang kemerdekaan yang paling dicari Belanda. Tuan Guru Carik Kabar pada saat masa penjajahan mempunyai tugas yaitu mendistribusikan makanan kepada para pejuang yang bersembunyi di pedalaman perbukitan. Di akhir hidupnya, beliau dikepung oleh tentara Belanda di rumahnya, dan pada saat itu seluruh warga Desa Rawalo diungsikan ke desa tetangga yaitu Desa Pesawahan. Ada juga pemuka atau tokoh agama yang terkenal di Desa Rawalo yaitu Kiai Zuhdi, akan tetapi tidak ada makam dari Kiai Zuhdi karena pada saat itu beliau menyingkir guna menghindari perburuan antek-antek kolonial Belanda dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya.

Adapun kepala desa yang menjabat di Desa Rawalo yang tercatat di kelurahan antara tahun sebelum 1940-2019 yaitu :
  1. H. Masduki periode tahun menjabat tidak diketahui, jabatan masih diberi nama lurah.
  2. Hadiwiyata periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
  3. Redjakriya periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
  4. Darmowiyoto periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
  5. Ismail periode tahun menjabat tidak diketahui dan jabatan masih diberi nama lurah.
  6. H. SI Sumarno menjabat pada periode 1952-1986 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  7. HSN Patriyah menjabat pada periode 1986-1999 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  8. Sungabas menajabat pada periode 1999-2007 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  9. Zahrur Romadhon menjabat pada periode 2007-2013 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  10. Mochamad Ridwan menjabat pada periode 203-2019 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.

 Kontributor: Syitta Fajar.