![]() |
| Lokasi petilasan rawa dan pohon Lo yang kini menjadi lahan pertanian. |
Kecamatan
Rawalo terletak di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Kecamatan Rawalo berjarak
sekitar 20 km arah selatan dari pusat Kabupaten Banyumas. Kecamatan Rawalo secara
geografis merupakan pertemuan jalan raya nasional jalur selatan Jawa dengan
jalan raya nasional lintas tengah. Luas wilayah Kecamatan Rawalo 4.964 Hektar.
Pada tahun 2015 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas
mencatat jumlah penduduk Keacamatan Rawalo mencapai 63.273 jiwa. Kecamatan
Rawalo sendiri mempunyai sembilan
kelurahan yaitu Banjarparakan, Losari, Menganti, Pesawahan, Rawalo, Sanggreman,
Sidamulih Tambaknegara, dan Tipar. Ibu kota Kecamatan Rawalo adalah Desa
Rawalo. Desa Rawalo terletak dibagian selatan Kabupaten Banyumas. Wilayahnya
sebagian besar merupakan dataran rendah terutama dibagian tengah. Wilayah
selatan berupa lereng perbuktian landai yang dilintasi oleh Sungai Serayu dari
bagian timur. Bagian utara merupakan daerah perbuktian berketinggian lebih dari
300 meter diatas permukaan laut dengan sejumlah puncaknya seperti Bukit Payung
(312 m), Bukit Watujambangan (237 m) dan Bukit Kubang (185 m). selain Sungai
Serayu, Desa Raalo juga dilewati sejumlah sungai seperti Sungai Tajum, Sungai
Kalibalung, Sungai Kalidare, dan Sungai Sungkalan.
Sebelum masa kolonial, perkembangan
suatu daerah sangat dipengaruhi oleh keadaan alam atau faktor greografis.
Gunung-gunung dan radatan tinggi mendukung wilayah pedalaman menjadi kawasan
yang sangat cocok bagi pengelolaan pertanian. Sehingga, lembah sungai menjadi
pusat kegiatan-kegiatan manusia. Sama halnya dengan Lembah Sungai Serayu yang
menjadi pusat kegiatan manusia sejak masa pra kolonial. Lembah Sungai Serayu merupakan
suatu daratan luas yang terletak diantara kawasan Gunung Sumbing dengan puncak
Gunung Slamet 3.428 diatas permukaan laut. Desa Rawalo pun dilewati oleh Sungai
Serayu. Rawalo berasal dari dua kata Rawa dan Lo. Lo sendiri adalah sebuah nama
pohon. Pohon Lo juga disebutkan dalam kitab suci. Dalam kisah Buddha Gauthama,
Pohon Lo disebut Bodhi. Pangeran Sidratha Gauthama bersemedi dibawah Pohon Lo
sampai mendapat pencerahan spiritual hingga disebut Buddha. Karena besar dan
diameternya bisa lebih dari 50 cm dan tingginya bisa mnecapai 17 meter, Pohon
Lo sering dianggap angker dan ada makhluk penunggunya.
Konon, penamaan Desa Rawalo tersebut
karena ketika ada peristiwa “Blabur
Banyumas” hanya daerah yang terdapat Pohon Lo saja yang tidak terendam oleh
genangan banjir tersebut. Blabur Banyumas sendiri terjadi pada hari Kamis Wage,
Jum’at Kliwon sampai Sabtu Manis tanggal 21-23 Februari 1861. Prasasti yang
ditempelkan di klompek Pondok Pesantren GUPPI Banyumas pada tembok bagian
selatan gedung yang persis dipintu masuk kompleks menggunakan bahasa Belanda.
Letaknya persis menggambarkan ketinggian air bah yang sampai kelangi-langit
gedung tingginya sekitar 3,5 meter. Para sesepuh kala itu sudah mendapat
firasat yang digambarkan dengan sasmitha, terkenal dengan sasmita “Bethik
mangan manggar”. Semula semua orang tidak dapat menafsirkan apa makna dibalik
kata-kata itu. Setelah banjir terjadi barulah orang mengetahui makna yang
tersirat dalam ucapan simbolik tersebut. Bethik adalah nama ikan air tawar yang
banyak hidup di Serayu, sedangkkan Manggar adalah bunga pohon kelapa. Pohon
Kelapa yang sudah berumur kurang lebih 7 tahun kira-kira tingginya sudah 3-4
meter. Jadi “Bethik mangan Manggar” adalah bahwa ikan yang hidup di air sungai
dapat mencapai manggar yang ada dipohon kelapa. Berarti dapat disimpulkan bahwa
munculnya penamaan Rawalo muncul sekitar tahun 1860an
Kabupaten Banyumas pada masa
penjajahan Inggris (1811-1816) di bawah penguasaan Kerajaan Surakarta, yang
artinya adalah bahwa Desa Rawalo juga berada dibawah Kerajaan Surakarta. Akan
tetapi pada masa penjajahan Inggris penguasaan Kerajaan Surakarta tersebut hanya
sebagai adipati atau bupati banyumas saja.
Pada Desa Rawalo terdapat Cungkub
yang dijaga di Kuburan Desa Rawalo. Cungkub tersebut merupakan cungkub
bangsawan-bangsawan dari Keraton Jogja yang “ngili”. Bangsawan-bangsawan
tersebut berasal dari daerah yang bernama Drewak. Mereka mengungsi akibat intimidasi dari penjajah Belanda. Tokoh yang paling masyhur di Desa
Rawalo adalah Tuan Guru Carik Kabar. Beliau merupakan pejuang kemerdekaan yang
paling dicari Belanda. Tuan Guru Carik Kabar pada saat masa penjajahan
mempunyai tugas yaitu mendistribusikan makanan kepada para pejuang yang
bersembunyi di pedalaman perbukitan. Di akhir hidupnya, beliau dikepung oleh
tentara Belanda di rumahnya, dan pada saat itu seluruh warga Desa Rawalo
diungsikan ke desa tetangga yaitu Desa Pesawahan. Ada juga pemuka atau tokoh
agama yang terkenal di Desa Rawalo yaitu Kiai Zuhdi, akan tetapi tidak ada
makam dari Kiai Zuhdi karena pada saat itu beliau menyingkir guna menghindari perburuan antek-antek kolonial Belanda dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya.
Adapun kepala desa yang menjabat di
Desa Rawalo yang tercatat di kelurahan antara tahun sebelum 1940-2019 yaitu :
- H. Masduki periode tahun menjabat tidak diketahui, jabatan masih diberi nama lurah.
- Hadiwiyata periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
- Redjakriya periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
- Darmowiyoto periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
- Ismail periode tahun menjabat tidak diketahui dan jabatan masih diberi nama lurah.
- H. SI Sumarno menjabat pada periode 1952-1986 pada masa ini jabatan sudah diberi nama kepala desa.
- HSN Patriyah menjabat pada periode 1986-1999 pada masa ini jabatan sudah diberi nama kepala desa.
- Sungabas menajabat pada periode 1999-2007 pada masa ini jabatan sudah diberi nama kepala desa.
- Zahrur Romadhon menjabat pada periode 2007-2013 pada masa ini jabatan sudah diberi nama kepala desa.
- Mochamad Ridwan menjabat pada periode 203-2019 pada masa ini jabatan sudah diberi nama kepala desa.

No comments:
Post a Comment
Silahkan Berkomentar Secara Bijak dan Bertanggungjawab: