Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Thursday, 20 June 2019

Sejarah Desa Rawalo Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas Jawa Tengah


                     
Lokasi petilasan rawa dan pohon Lo yang kini menjadi lahan pertanian.

Kecamatan Rawalo terletak di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Kecamatan Rawalo berjarak sekitar 20 km arah selatan dari pusat Kabupaten Banyumas. Kecamatan Rawalo secara geografis merupakan pertemuan jalan raya nasional jalur selatan Jawa dengan jalan raya nasional lintas tengah. Luas wilayah Kecamatan Rawalo 4.964 Hektar. Pada tahun 2015 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas mencatat jumlah penduduk Keacamatan Rawalo mencapai 63.273 jiwa. Kecamatan Rawalo sendiri mempunyai  sembilan kelurahan yaitu Banjarparakan, Losari, Menganti, Pesawahan, Rawalo, Sanggreman, Sidamulih Tambaknegara, dan Tipar. Ibu kota Kecamatan Rawalo adalah Desa Rawalo. Desa Rawalo terletak dibagian selatan Kabupaten Banyumas. Wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah terutama dibagian tengah. Wilayah selatan berupa lereng perbuktian landai yang dilintasi oleh Sungai Serayu dari bagian timur. Bagian utara merupakan daerah perbuktian berketinggian lebih dari 300 meter diatas permukaan laut dengan sejumlah puncaknya seperti Bukit Payung (312 m), Bukit Watujambangan (237 m) dan Bukit Kubang (185 m). selain Sungai Serayu, Desa Raalo juga dilewati sejumlah sungai seperti Sungai Tajum, Sungai Kalibalung, Sungai Kalidare, dan Sungai Sungkalan.

Sejarah Desa Rawalo
Sebelum masa kolonial, perkembangan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh keadaan alam atau faktor greografis. Gunung-gunung dan radatan tinggi mendukung wilayah pedalaman menjadi kawasan yang sangat cocok bagi pengelolaan pertanian. Sehingga, lembah sungai menjadi pusat kegiatan-kegiatan manusia. Sama halnya dengan Lembah Sungai Serayu yang menjadi pusat kegiatan manusia sejak masa pra kolonial. Lembah Sungai Serayu merupakan suatu daratan luas yang terletak diantara kawasan Gunung Sumbing dengan puncak Gunung Slamet 3.428 diatas permukaan laut. Desa Rawalo pun dilewati oleh Sungai Serayu. Rawalo berasal dari dua kata Rawa dan Lo. Lo sendiri adalah sebuah nama pohon. Pohon Lo juga disebutkan dalam kitab suci. Dalam kisah Buddha Gauthama, Pohon Lo disebut Bodhi. Pangeran Sidratha Gauthama bersemedi dibawah Pohon Lo sampai mendapat pencerahan spiritual hingga disebut Buddha. Karena besar dan diameternya bisa lebih dari 50 cm dan tingginya bisa mnecapai 17 meter, Pohon Lo sering dianggap angker dan ada makhluk penunggunya.

Konon, penamaan Desa Rawalo tersebut karena ketika ada peristiwa “Blabur Banyumas” hanya daerah yang terdapat Pohon Lo saja yang tidak terendam oleh genangan banjir tersebut. Blabur Banyumas sendiri terjadi pada hari Kamis Wage, Jum’at Kliwon sampai Sabtu Manis tanggal 21-23 Februari 1861. Prasasti yang ditempelkan di klompek Pondok Pesantren GUPPI Banyumas pada tembok bagian selatan gedung yang persis dipintu masuk kompleks menggunakan bahasa Belanda. Letaknya persis menggambarkan ketinggian air bah yang sampai kelangi-langit gedung tingginya sekitar 3,5 meter. Para sesepuh kala itu sudah mendapat firasat yang digambarkan dengan sasmitha, terkenal dengan sasmita “Bethik mangan manggar”. Semula semua orang tidak dapat menafsirkan apa makna dibalik kata-kata itu. Setelah banjir terjadi barulah orang mengetahui makna yang tersirat dalam ucapan simbolik tersebut. Bethik adalah nama ikan air tawar yang banyak hidup di Serayu, sedangkkan Manggar adalah bunga pohon kelapa. Pohon Kelapa yang sudah berumur kurang lebih 7 tahun kira-kira tingginya sudah 3-4 meter. Jadi “Bethik mangan Manggar” adalah bahwa ikan yang hidup di air sungai dapat mencapai manggar yang ada dipohon kelapa. Berarti dapat disimpulkan bahwa munculnya penamaan Rawalo muncul sekitar tahun 1860an

Kabupaten Banyumas pada masa penjajahan Inggris (1811-1816) di bawah penguasaan Kerajaan Surakarta, yang artinya adalah bahwa Desa Rawalo juga berada dibawah Kerajaan Surakarta. Akan tetapi pada masa penjajahan Inggris penguasaan Kerajaan Surakarta tersebut hanya sebagai adipati atau bupati banyumas saja.

Pada Desa Rawalo terdapat Cungkub yang dijaga di Kuburan Desa Rawalo. Cungkub tersebut merupakan cungkub bangsawan-bangsawan dari Keraton Jogja yang “ngili”. Bangsawan-bangsawan tersebut berasal dari daerah yang bernama Drewak. Mereka mengungsi akibat intimidasi dari penjajah Belanda. Tokoh yang paling masyhur di Desa Rawalo adalah Tuan Guru Carik Kabar. Beliau merupakan pejuang kemerdekaan yang paling dicari Belanda. Tuan Guru Carik Kabar pada saat masa penjajahan mempunyai tugas yaitu mendistribusikan makanan kepada para pejuang yang bersembunyi di pedalaman perbukitan. Di akhir hidupnya, beliau dikepung oleh tentara Belanda di rumahnya, dan pada saat itu seluruh warga Desa Rawalo diungsikan ke desa tetangga yaitu Desa Pesawahan. Ada juga pemuka atau tokoh agama yang terkenal di Desa Rawalo yaitu Kiai Zuhdi, akan tetapi tidak ada makam dari Kiai Zuhdi karena pada saat itu beliau menyingkir guna menghindari perburuan antek-antek kolonial Belanda dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya.

Adapun kepala desa yang menjabat di Desa Rawalo yang tercatat di kelurahan antara tahun sebelum 1940-2019 yaitu :
  1. H. Masduki periode tahun menjabat tidak diketahui, jabatan masih diberi nama lurah.
  2. Hadiwiyata periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
  3. Redjakriya periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
  4. Darmowiyoto periode tahun menjabat tidak diketahui danjabatan masih diberi nama lurah.
  5. Ismail periode tahun menjabat tidak diketahui dan jabatan masih diberi nama lurah.
  6. H. SI Sumarno menjabat pada periode 1952-1986 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  7. HSN Patriyah menjabat pada periode 1986-1999 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  8. Sungabas menajabat pada periode 1999-2007 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  9. Zahrur Romadhon menjabat pada periode 2007-2013 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.
  10. Mochamad Ridwan menjabat pada periode 203-2019 pada masa ini jabatan  sudah diberi nama kepala desa.

 Kontributor: Syitta Fajar.