Nama “Pasir” sebenarnya bukan berasal dari kata pasir, namun bermula dari kata “Pesisir”. Ini mungkin dikarenakan pergeseran pengucapan lidah orang Jawa dari kata “pesisir” yang lama-lama terucap menjadi kata Pasir. Desa ini disebut “Desa Pesisir” karena memang dahulu wilayah ini adalah batas pantai di wilayah Demak dan lama-kelamaan menjadi daratan kemudian menjadi tempat hunian atau desa.
Desa pasir babadnya
atau sejarahnya bermula dari babad Pasir Luhur dan kerajaan Galuh. Kerajaan Pasir
Luhur/Kadipaten Pasir Luhur dinyatakan sebagai kerajaan Galuh yang merdeka (wilayah perdikan) karena tidak di bawah kekuasaan kerajaan lain baik Sunda (Pajajaran) maupun
Majapahit. Konon Pasir Luhur wilayahnya mulai dari
Gunung Sindoro Sumbing sebagai batas sebelah timur sampai dengan Sungai Citarum
sebagai batas sebelah barat. Dan bukti sejarahnya termuat dalam Versi Tembang
dan Gancaran (prosa-prosa).
- Prabu
Mundingwangi (Ratu Ing Pajajaran)
- Aryo
Bangah (Raja Galuh)
- Prabu
Ciung Wanara (Raja Pajajaran)
- Raden
Djaka Suruh / Prabu Brawidjaja I (Raja Majapahit)
- Adipati
Dewa Agung
- Prabu
Linggowastu
- Prabu
Brawidjaja II
- Adipati
Agung Dewa
- Prabu
Linggo Lijo
- Prabu
Hadiningkung
- Adipati
Tjarang Rangkang
- Prabu
Linggo Larang
- Prabu
Hajam Wuruk
- Adipati
Amidjaja
- Prabu
Linggo Wasi
- Prabu
Lembu Amisani
- Adipati
Kandha Daha
- Prabu
Silih Wangi
- Prabu
Brotandiung
- Dewi
Tjiptarasa (Putri Bungsu)
- Raden
Banyak Tjatra (Raden Kamandaka)
- Raden
Alit / Brawidjaja III
Berikut juga ada sebuah kisah yang populer dari Kerajaan Pasir Luhur, yakni
cerita tentang Raden Banyak Catra. Konon
ceritanya Raden Banyak Catra belum mau menjadi Raja menggantikan Ayahnya bila
belum menemukan Istri untuk dijadikan Permaisuri yang mirip dengan ibunya.
Kemudian dia melakukan perjalanan dengan istilah Ngaman Daka yaitu berjalan
seorang diri dengan tidak menyertakan prajurit dengan menyamar sebagai rakyat
biasa. Sehingga dikenal dengan nama Kamandaka. Sampailah dia di Kadipaten Pasir
Luhur dan singkat cerita bertemu dengan Dewi Ciptarasa Putri Bungsu Adipati
Kandha Daha yang berparas mirip sekali dengan ibu Raden Banyak Catra. Raden
Banyak Catra tertarik mendekati Dwi Cipta Rasa untuk dipinang sebagi istrinya.
Disinilah cerita legenda Lutung Kasarung.
Kemudian
Raden Kamandaka menikah dengan Dewi Cipta Rasa dan dinobatkan sebagai Adipati
Pasir Luhur menggantikan Ayah Mertuanya Adipati Kandha Daha. Beriku silsilah yang didapat dari pernikahan Raden Banyak
Cakra dan Dewi Cipta Rasa sebagai berikut :
- Dewi
Cipta Rasa ( Putri Bungsu)
- Raden
Banyak Catra ( Raden Kamandaka)
- Raden
Banyak Wirata
- Raden
Banyak Roma
- Raden
Banyak Kesumba
- Raden
Banyak Belanak / Patih Purwakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi I)
- Raden
Banyak Geleh / Patih Wirakencana (Pangeran Senopati Mangkubumi II)
Dan pada perkemanganya banyak
pergantian kepemimpian dan perkembangan lainya dari Kerajaan Pasir Luhur yang kemudian terpisah rmenjadi 4 yaitu ;
- Pasir
Kulon
- Pasir
Wetan
- Pasir
Kidul
- Pasir Lor
Berikut
adalah tokoh-tokoh dari Desa Pasir :
1.
Nyai Maryam (Demang Wanita)
2.
Nyai Nurhakim (Demang Wanita)
3.
Demang Nurahman I
4.
Demang Nurahman II
5.
Demang Nurahman III
6.
Demang Muljadimedja ( Demang Nurahman IV)
7.
Demang Nurahman V
8.
H. Wangidin
9.
H. Soetarman HS
10. H. Sukamto
11. Chadjirin
12. Hj. Endriyani
Sebenarnya sejarah Desa Pasir Kulon sendiri tidak
terlalu banyak, sebab Desa Pasir Kulon merupakan jabaran dari kerajaan pasir
luhur, sehingga cerita rakyatnya lebih kepada babat Kerajaan Pasir Luhur.
Kontributor: Deby
Yuliana



No comments:
Post a Comment
Silahkan Berkomentar Secara Bijak dan Bertanggungjawab: